[Musik] "Serukan Hari" - Endah N Rhesa

Melihat Konflik Agraria dari Banyak Mata

“Emang kalau proyek NYIA jadi, kenapa sih?” 

Pertanyaan itu dilontarkan seorang kawan dengan enteng saat kami sedang duduk di sebuah coffe shop berudara sejuk di daerah utara Yogyakarta. Saya mengernyitkan dahi heran, bagaimana bisa seseorang yang berkuliah di fakultas sospol di Yogyakarta bisa menanyakan hal yang begitu.... awam, setidaknya untuk saya.

Sedetik kemudian, keheranan saya berubah jadi pemakluman. Setelah diingat-ingat, pada kenyataannya, isu proyek NYIA dan konflik agraria secara umum adalah isu yang kelewat asing untuk kalangan anak muda urban. Generasi yang ironisnya terlanjur dibebani stereotip sebagai penggerak bangsa. Kami, anak-anak muda perkotaan ini sejatinya adalah kelompok yang tumbuh dalam gelembung ekonomi kelas menengah berorientasi kota dan segala kebanalannya. Jangankan soal NYIA, apa itu agraria saja banyak dari kami yang mungkin tak tahu.

Padahal, konflik agraria adalah masalah yang sebetulnya kelewat penting untuk hanya dilihat oleh satu kelompok, aktivis misalnya. Ruang hidup dan tanah adalah akar dari hampir semua persoalan kemaslahatan sehari-hari. Efek buruknya bisa menjalar jauh secara ruang dan waktu. Ia harusnya jadi bahasan sebanyak mungkin manusia yang mengaku masih menghirup kehidupan.

Di situlah lagu “Serukan Hari” dari Endah N Rhesa ini memosisikan dirinya. Endah N Rhesa, yang bergerak dalam ranah populer punya potensi untuk menyelipkan kesadaran dan ingatan soal tanah air yang sedang dilukai ini ke telinga kawan-kawan sekalian. Ketika musisi-musisi dalam lingkaran aktivisme kerap terjebak dalam audiens yang ‘sudah paham’, maka Endah n Rhesa bisa tiba-tiba memunculkan tanda tanya, benih kepedulian, dan kesadaran di tengah gemerlap panggung-panggung musik populer. Seperti pil pahit yang dimasukkan ke dalam gumpalan pisang agar tertelan oleh pasien bebal.

Lagu “Serukan Hari” menyarukan urgensi isu konflik agraria dalam nada-nada ceria dan lirik yang manis sederhana. Saya tak menemukan sesuatu yang spesial sampai menyadari Endah N Rhesa menggunakan sudut pandang tak tunggal dalam liriknya. Dalam surel yang dikirimkan Endah pada saya, ia mengaku kerap memainkan perspektif dalam membuat sebuah lagu. Pada bait pertama /menyapa petani hadir setiap pagi/ menyiangi semak yang membuatku geli/, berbeda posisi dengan bait /berbulan-bulan lamanya kami bertani/ masa-masa sulit tetap kami hadapi/. Sekali dinyanyikan oleh petani, lainnya seolah dinyanyikan oleh tanah, oleh burung-burung, oleh semak-semak, atau entah siapa. Untuk saya, lagu ini mengingatkan bahwa konflik agraria adalah obyek yang harus dilihat dari beragam sudut pandang. Baik alasannya, juga akibatnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh konflik agraria bisa begitu rumit dan multidimensi. Untuk warga terdampak, penggusuran dan pelanggaran HAM pada kasus NYIA misalnya, memaksa ratusan keluarga yang sebelumnya berdikari di tanah sendiri harus jadi buruh atau berdagang, menghapus kesahajaan hidup desa yang sederhana jadi impian perkotaan yang rumit, juga mengeringkan tanah-tanah yang subur dan produkif. Bahkan dalam level yang lebih jauh, saya dan Endah ternyata sama-sama memperhatikan nasib anak-anak yang harus menyaksikan penindasan di masa kecil mereka. Mereka ini, dalam hatinya sekarang telah tumbuh trauma, luka batin yang menjelma bom waktu. Menggerogoti semangat baik dan bukan tak mungkin, mereproduksi luka-luka lain sepanjang hidupnya. Untuk warga kota, konflik agraria di tempat yang jauh mungkin akan sampai dalam wujud naiknya harga makanan, macetnya jalanan kota, keringnya sumur-sumur, dan entah apa lagi.

Tinggal lihat di mana posisimu sekarang untuk melihat akibat seperti apa yang mungkin sampai kepadamu suatu saat nanti. Semoga lagu “Serukan Hari” bisa menyuara di sebanyak mungkin panggung, sejauh mungkin dari lingkaran aktivisme, dan sebanyak mungkin telinga awam yang asing dari konflik agraria.

Sebagai masalah besar, harusnya isu ini juga dibicarakan–tanpa harus bermulut besar— dengan mulut-mulut kecil, aksi-aksi kecil, dan kebaikan-kebaikan kecil yang memunculkan nyali-nyali besar untuk terus ingat dan melawan. 

(Titah AW)



Unduh





Lagu ini dirilis secara gratis (dan legal!) sebagai bagian dari proyek 37suara.

Teman-teman dapat mendengarkan serta mengunduh lagu ini di laman-laman berikut:


Namun, kalian juga boleh berdonasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk di sini.

Karya ini menggunakan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.





Lirik

"Serukan Hari"

Menyapa petani
Hadir setiap pagi
Menyiangi semak yang membuatku geli
Burung terbang rendah
Hendak hinggap di padi
Ia tahu panen tiba sebentar lagi

Berbulan-bulan lamanya kami bertani
Masa - masa sulit tetap kami hadapi
Demi sepiring nasi dan berkarung beras
Bekerja keras lelah tak menengahi

Matahari
Hangatkan tanah ini
Alu lesung sudah siap menanti
Mari bernyanyi
Kita serukan hari ini

Jika tiba-tiba Tuan ‘kan mengambil lahan
Apa daya kami nanti tak mampu bertahan
Hidup untuk bahagia
Bukan hanya untuk harta
Bumi langit kita sama
Berpijaklah...

Matahari
Hangatkan tanah ini
Alu lesung sudah siap menanti
Hai petani jangan pernah berhenti
Mari bernyanyi
Kita serukan hari ini

Kredit

Lirik dan musik oleh Endah N Rhesa

Direkam, mixing, dan mastering oleh Rhesa Adityarama
Direkam di Shane’s Lab Studio, Pamulang

Artwork oleh Rudy ‘Atjeh’ Dharmawan
Liner notes oleh Titah AW


[Musik] "Serukan Hari" - Endah N Rhesa [Musik] "Serukan Hari" - Endah N Rhesa Reviewed by 37 suara on 23.8.18 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.