Tentang

Apa itu 37suara?

37suara merupakan proyek kolektif yang melibatkan musisi, seniman, dan peneliti dari berbagai wilayah; Yogyakarta, Bantul, Madiun, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan kota-kota lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Catatan penting: kami tidak berafiliasi dengan lembaga atau organisasi manapun.

Suara siapa yang ada di sini?

37suara menggemakan suara warga dalam 37 rumah yang masih dipertahankan di Temon, Kulonprogo. Di sana, di tanah yang sudah dihidupi secara turun temurun oleh warga, akan dibangun New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang sudah dirancang sejak, setidaknya, enam tahun yang lalu. Namun, sayangnya, sejak awal, tidak terjadi kesepakatan antara seluruh warga dengan pihak pembangun dan pemerintah. Warga yang menolak menjual tanahnya hingga hari ini terus menghadapi berbagai intimidasi bahkan kekerasan fisik.

Kenapa ini penting?

Kasus-kasus penggusuran paksa seperti ini sangat sering kita dengar, akhir-akhir ini dan nampaknya di waktu-waktu mendatang. Pemerintah Indonesia terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Bandara, jalan tol, pusat industri, pusat perbelanjaan hingga pertambangan, mendapat prioritas dalam proyek pembangunan. Permasalahannya adalah pembangunan yang katanya demi kepentingan publik itu seringkali mengabaikan hal lain yang justru lebih penting: kesejahteraan warga yang terkena imbas langsung dari pembangunan itu sendiri.

Ada begitu banyak kasus penggusuran dan perampasan lahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Apakah itu penting buat kita semua? Bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Sebagian teman-teman yang membaca tulisan ini di gawai masing-masing mungkin berpikir, “Bukannya kita memang membutuhkan semua fasilitas itu?” Tapi, pasti teman-teman juga akan berpikir ulang begitu mendengar ada seorang petani yang dipenjara selama empat bulan hanya karena mempertahankan tanah dan rumahnya sendiri. Itu hanya salah satu dari berbagai upaya intimidasi yang dilakukan terhadap warga yang menolak melepaskan tanah airnya. Atau mungkin kita bisa bertanya, “Jika lahan pertanian produktif terus dicaplok untuk infrastruktur, bagaimana dengan masa depan ketersediaan pangan, apalagi cita-cita kedaulatan pangan?”

Kalaupun bandara itu akhirnya tetap dibangun dan kita pakai untuk terbang ke lokasi kerja ataupun tempat wisata, kita mungkin perlu mengingat bahwa tanah yang digunakan untuk membangun bandara itu adalah tanah yang diambil secara sewenang-wenang, yang mengorbankan hajat hidup para petani. Tanah yang menjadi saksi atas kekerasan fisik dan mental terhadap mereka yang dulu menghidupinya. Kekerasan fisik dan mental yang bisa saja terulang di tanah-tanah lain, di mana bandara, jalan tol, pusat industri, dan segala perlambang modernitas akan dibangun. Kekerasan fisik dan mental yang seharusnya tidak terjadi, jika saja setiap warga dimanusiakan dan didengar aspirasinya.

Karena itulah, sebagai masyarakat digital yang budiman, setidak-tidaknya, hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah menjadikan isu ini seviral mungkin. Mari ikut menggemakan 37suara ini.

Kok aku baru dengar tentang kasus itu?

Nah, iya. Kok baru dengar? Sebetulnya berita mengenai kasus ini sempat bertebaran di media massa akhir tahun lalu, ketika warga berhadap-hadapan dengan polisi dan buldoser. Tapi mungkin tidak cukup menarik dibanding gosip politik dan selebritis dari ibukota. Tapi jangan khawatir, jejak digitalnya masih bisa ditelusuri kok. Teman-teman bisa mulai dari sini.

Kenapa karya-karya 37suara dirilis secara gratis?

Kami sadar, meskipun senyum manis pacar tidak bisa mengenyangkan perut, uang tetap bukan jawaban atas segalanya. Garing ya? Maafkan. Tapi tahukah kamu? Sepeser uang bisa sangat berarti bagi 37 KK yang segala sumber penghidupannya—lahan pertanian (pangan), sumber air, dan sambungan listrik—diputus paksa. Jadi apabila teman-teman yang kelebihan uang jajan, uang rokok, atau uang minuman tentu saja boleh menyumbangkan sebagian darinya ke mari.

Bagaimana caranya? Kami menyediakan dua cara untuk mengirim donasi, via Paypal dan transfer bank, yang informasinya bisa diperoleh di sini. Bagaimana kalau tidak punya uang lebih? Tenang aja. Teman-teman yang asupan jajan, rokok, dan alkoholnya berkecukupan atau tidak bisa diganggu gugat, tentu saja boleh berkontribusi dengan cara lain.

Apa cara lain yang bisa dilakukan?

Lagu-lagu yang dirilis di situs ini menggunakan lisensi Creative Commons (CC). Dengan begitu, teman-teman bebas mendistribusikan lagu-lagu ini lewat media sosial ataupun memasukkannya ke dalam playlist di kafe, radio, toko, warnet, atau ruang-ruang lainnya. Teman-teman bisa mengunduh file-file lagu dari website ini, memasang fasilitas streaming lagu dari akun SoundCloud ataupun BandCamp 37suara, ataupun memposting video musik dari akun Youtube 37suara.

Jikalau teman-teman punya energi kreatif berlebih, kami dengan senang hati mengajak untuk membuat cover dan mengunggah hasil cover teman-teman. Ajakan ini tentu saja tidak terbatas pada teman-teman musisi. Siapa tahu, kamu suka membuat terrarium dan terinspirasi oleh satu lagu dan menciptakan terrarium yang bisa berbicara, atau ciptaan lain yang lebih masuk akal, apapun itu, ciptakan, unggah, ceritakan, sebarkan!

Bantu kami mengabarkan tentang 37suara kepada pacar, sahabat, atau keluarga kamu. Kami percaya, selemah-lemahnya iman di era digital adalah menekan tombol share di media sosial.

Bagaimana kalau aku mau berkontribusi di 37suara?

Kami terbuka menerima kiriman lagu, karya seni, maupun tulisan yang boleh disebarkan secara gratis sebagai bagian dari proyek ini. Silakan mengontak admin kami via email atau telepon +62 877-7027-3737 untuk ngobrol lebih lanjut tentang ini.
Tentang Tentang Reviewed by 37 suara on 15.3.18 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.