[Musik] "Pagar" - Melancholic Bitch

Tumbuh besar di kawasan pesisir utara Jawa bikin saya akrab dengan dangdut. Dan dari sekian banyak lagu dangdut pernah ngendon di kuping saya, “Pagar Makan Tanaman”-nya Mansyur S. adalah lagu yang susah saya lupakan.

Dulu, saya abai saja dengan konten lirik lagu ini tikung menikung dalam hubungan percintaan ini. Ternyata, setelah sedikit ngeh ini itu, saya kok baru sadar kalau lagu itu punya nalar yang tak ketulungan misoginisnya. Judulnya saja sudah problematis. Pagar dalam adalah kiasan untuk teman pria sang narator sedangkan tanaman dimaknai sebagai kekasih sang narator. Jadi, ketika pagar makan tanaman, maka pria bahkan dalam kiasan yang paling sederhana macam ini selalu punya kuasa lebih (baca: bisa makan seperti Groot di Guardians of The Galaxy, kalau mau mengacu pada populer yang kekinian abis) sementara perempuan selalu saja ditampilkan sebagai objek yang nrimo, tak punya kehendak atau gampangnya, vegetatif. Enggak asik lah pokoknya!

Lantas sekian tahun setelah Mansyur S. menyanyi perihal Pagar Makan Tanaman, Melancholic Bitch, kolektif pop yang kadung disepakati banyak orang sebagai grup band hyperliterate, juga ikut melepas sebuah single berjudul “Pagar.” Mengingat sejarah Melbi yang pernah menyimpan obsesi jadi orkes pantura dan tak asing dengan kehidupan kaum kecil, saya lumayan ngarep kalau Ugoran Prasad Cs akan mengulik perkara tikung-menikung dalam hubungan percintaan yang lebih intelek.

Ternyata saya kecele, meski tak keliru-keliru amat. “Pagar” memang bukan lagu dangdut ala Melbi seperti Distopia. Ini lagu pop tulen dengan sentuhan post rock yang kentar. Pun, pagar di sini tak dijadikan kiasan untuk pencoleng kekasih orang. Sebaliknya, pagar di sini adalah garis depan perlawasan atas kesewenang-wenangan bernama penyerobotan tanah dan lahan hidup (Jauh sampai ke Pagar yang melingkar/medan perang/tempat tanah diperebutkan). Layaknya, Mansyur S, Ugo cs. juga bicara tentang perempuan, bedanya sosok perempuan dalam lirik Ugo punya agensi dan melakukan perlawanan dengan sehormat-hormatnya (Ibu dari tanah/makan tanah/daningin kembali ke tanah/tempat ibunya dari tanah/kembali ke tanah/seusai perang bagi-bagi tanah). Di sisi ini, Ugo Cs. memang kelihatan lebih banyak makan bangku sekolahan dari Mansyur S.

Lebih dari itu, Mansyur S dan Melbi bicara tentang hal yang sama: perihal tikung menikung—cuma dengan skala yang berbeda jauh. “Pagar makan tanaman” berkutat pada soal rebutan kekasih yang paling banter memicu sakit hati yang menahun. Tanpa berusaha mengerdilkan konsekuensi ditikung teman dekat, saya masih bisa mengatakan bahwa efek sakit masih bisa memudar oleh waktu dan korbannya cuma orang perorang.

Sementara itu, Melbi dalam “Pagar” bicara tentang tikung-menikung yang dampaknya bisa jauh lebih luas tur langgeng. Pencoleng dalam lagu ini adalah negara yang—meminjam lirik Melbi lainnya—tak bisa mengeja kata sesederhana “property rights.” Dirilis via 37suara.net yang merangkum lagu-lagu bertema agraria sebagai bentuk dukungan pada warga Temon yang lahannya terancam direnggut birahi rezim infrastruktur, “Pagar” adalah ode bagi warga—di Temon atau di mana pun itu—yang ruang hidupnya ditikung dengan cara-cara brengsek seperti intimidasi verbal maupun fisik, penutupan jalan, intimidasi fisik, penangkapan oleh aparat hingga proses konsinyasi sepihak. Jelas, dalam upaya penikungan hak akan lahan hidup oleh negara, korbannya lebih masif dan sakitnya susah lekang oleh waktu itu. Kita tahu, cinta yang pupus karena ditikung teman bisa suatu saat merekah kembali kembali, tapi sawah yang ditikung negara tak mungkin lagi ditanami padi!

Lalu, apakah “Pagar”-nya Melbi lebih keren dari “Pagar Makan Tanaman”-nya Mansyur S? Menurut saya sih, ini pertanyaan yang enggak relevan-relevan amat. Pasalnya, 1) buang-buang waktu membandingkan lagu dangdut klasik dengan lagu pop kekinian (apalagi kalau punya bias dangdut seperti saya) 2) kalaupun lagu Melbi lebih superior, saya malah berharap lagu-lagu macam ini berhenti dibuat, seperti saya berharap konflik-konflik agraria yang jadi inspirasi lagu “Pagar” tak lagi terjadi (karena solidaritas rakyat tertindas berhasil diwujudkan dan punya kekuatan yang signifikan).

Namun, terlepas dari mana yang lebih keren, “Pagar” bolehlah terus diputar guna menjadi pengingat bahwa di mana pun itu, penyerobotan lahan—oleh negara dan korporasi—kadang lebih dekat dari urat di leher kita sendiri.


(Manan Rasudi)





Unduh


Lagu ini dirilis secara gratis (dan legal!) sebagai bagian dari proyek 37suara.

Teman-teman dapat mendengarkan serta mengunduh lagu ini di laman-laman berikut:


Namun, kalian juga boleh berdonasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk di sini.

Karya ini menggunakan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.





Lirik



Unduh file lirik di: s.id/lirikPagarMelbi




Kredit


Lirik, musik, engineering, dan mastering oleh Melancholic Bitch

Direkam di pintukecil

Artwork oleh Ipeh Nur
Liner notes oleh Manan Rasudi


[Musik] "Pagar" - Melancholic Bitch [Musik] "Pagar" - Melancholic Bitch Reviewed by 37 suara on 5.4.18 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.