[Musik] “Terima Kasih Petani” – Iksan Skuter feat Citra Aulia Prastika

Malu

Beberapa minggu sebelum tulisan ini diselesaikan, seorang kawan mengajak saya berkeliling ke salah satu sudut Sewon, Bantul. Kelilingnya menggunakan sepeda. Kami bangun pagi, mengayuh sepeda meninggalkan pusat kota. Dalam kamus hidup saya, Jogjakarta (hampir) selalu hangat, apapun kondisinya. Aura kotanya membuat semua orang tunduk padanya. Yang bukan Jawa, kalau harus tinggal di sana, pasti perlahan-lahan mempelajari kosakata Jawa dan kemudian menjadi Jawa. Minimal dalam urusan komunikasi keseharian.

Rute perjalanan itu merupakan pengalaman yang pertama. Sepeda membuat saya melintasi banyak batasan, termasuk menyaksikan bagaimana pemandangan berganti dari dinding kota yang kawakan sampai deretan sawah hijau yang membentang seiring dengan kecuraman rute yang juga meningkat.

Di satu titik, saya kalah setelah melakukan sebuah manuver tidak perlu yang secara teknik salah. Maklum, biasanya bersepeda dengan latar belakang kota, ini mendadak diajak ketemu alam yang masih minim rekayasa. Plus, pengalaman juga kuantitasnya rendah. Setelah diketawai oleh beberapa orang yang juga ikut dalam perjalanan itu, saya berpikir keras. Logika saya masuk ke dalam perjalanan itu ternyata sama sekali tidak tepat.

Orang kota, seperti saya, disajikan hidup yang praktis. Jadi, terbiasa menggantungkan diri pada peralatan yang dimiliki. Logikanya salah, bukan percaya pada kuasa alam, tapi yakin pada kemampuan diri sendiri.

Dalam kasus naik sepeda itu, saya disentil. Dan begitulah hidup seharusnya berjalan. Alam itu pemilik semua yang kita rasa miliki. Manusia, posisinya selalu pengguna. Tidak pernah sejati jadi yang punya. Alat, pun sebenarnya bala bantuan. Bukan pegangan utama.

Malu adalah kata sifat yang tinggal setelah peristiwa itu. Saya pikir, saya bisa jauh-jauh dari kata sifat itu. Ternyata tidak. Sialan.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, seorang teman lain, mengontak. Ia meminta saya untuk menuliskan liner notes ini. Dia memberi tahu bahwa subyek yang akan dijadikan bahan adalah sebuah lagu milik Iksan Skuter.

Ketika ditawari, tidak perlu waktu lama untuk mengiyakan. Saya pikir, Iksan Skuter akan menyumbangkan lagu penuh amarah –seperti biasanya— untuk proyek ini. Ternyata tidak. Yang ia berikan untuk orang banyak, adalah sebuah lagu anak-anak. Yang nyanyi, tentu saja bukan dirinya.

Tunggu, lagu anak-anak? Iksan Skuter menulis lagu anak-anak?

Ketika berjumpa beberapa bulan yang lalu, Iksan memang menceritakan proyek lagu anak-anak itu. Saya tidak menyangka ia akan menyumbangkan sebagian materi itu untuk proyek ini.

Orang ini adalah musisi yang sangat produktif. Dan ia begitu spontan merekam apapun yang ada di dalam kepalanya. Saya penggemar berat. Tapi untuk yang satu ini, saya harus mengutuknya. Ia memberikan ruang untuk rasa malu itu kembali datang.

Coba perhatikan kalimat-kalimat dalam lirik Terima Kasih Petani, lagu yang ia berikan untuk 37suara ini. Tidak ada penafsiran bersayap yang bisa muncul. Semuanya lugas, tepat sasaran dan bisa dimaknai dengan baik. Yang lebih berdaya, suara yang menyanyikannya adalah anak-anak; mereka yang tidak pernah pandai berbohong.

Lihatlah, lihatlah di sana
Petani yang ada di sawah
Topinya lebar
Cangkul di tangannya
Tanamannya subur dan berbuah
Nasi lauk dan sayur di meja makan
Itu semua petani yang menanam
Nasi lauk dan sayur yang kita makan
Itu semua petani yang menanam
Terima kasih, pak petani
Terima kasih, ibu petani

Dunia sepertinya hitam dan putih dalam rentetan suara itu. Tapi, kita sama-sama tahu bahwa itu adalah ilusi besar yang diberikan pada anak-anak oleh orang dewasa seperti saya dan kamu. Dunia itu abu-abu. Ada banyak kepentingan yang berserakan untuk dipungut dan diperjuangkan.

Kesederhanaan Terima Kasih Petani hanya ada di lagu dan tidak ada di kenyataan. Itu menyakitkan sekaligus memalukan. Orang-orang dewasa secara serakah melalaikan bahwa hidup itu keseimbangan.

Terutama, orang-orang kota seperti saya yang sebenarnya hidup dalam kerapuhan dan persoalan mencari yang tidak usai-usai. Kota tidak punya apa-apa selain ilusi dan keinginan ofensif untuk memiliki banyak hal. Kota adalah sekumpulan konsep insecure yang terus menerus perlu melanggengkan sistem pendukung yang bahkan tidak banyak berpihak pada alam.

Dan kita semua perlu malu untuk itu. Jika kemudian proses penyadarannya diberikan oleh sebuah lagu anak, kondisinya diperparah.

Petani adalah profesi yang mulia. Ia, dengan segala macam problematikanya, menjadi tulang punggung rantai makanan. Ia memproduksi dan menyebarluaskan hasil bumi untuk kehidupan orang banyak. Jika kemudian karena alasan apapun, lahan produksinya harus diberangus, maka itu perlu dipertanyakan: Apa sebenarnya yang ingin dicapai?

Tentu saja, pertanyaan tersebut bersambung pada hal naif yang itu tadi; tidak bisa diselesaikan secara hitam dan putih serta harus dibahas dengan kacamata orang dewasa yang abu-abu. Konflik agraria ada di sekitar kita. Dan dalam konteks tersebut, alam tidak pernah dibela. Serta merta, ilusinya dikembangkan atas nama pembangunan.

Malu kemudian menjadi kata sifat yang tinggal. Bisa jadi, patut sepenuhnya diarahkan pada negara dan institusi kroconya. Tapi sejujurnya, orang-orang kota model saya merupakan mereka yang (juga) patut dituding-tuding untuk fakta yang tidak menyenangkan ini.

Secara tidak langsung, sebagai sebuah mesin sistem, kota beserta ilusi dan persoalan mencari tadi menyebarluaskan paham-paham yang dipukul rata. Yang dirasa-rasa bisa diterapkan di banyak tempat secara seragam, sepaham dan terintegrasi dengan banyak kepentingan.

Jadi recehan dari kota, membuat saya tersungkur dalam sebuah perasaan malu yang mungkin akan tinggal dalam waktu lama.

Di setiap relung kehidupan, pertanyaan harus terus digelontorkan. Kita harus terus berbisik, berbicara dan (kalau perlu) berteriak untuk menggulirkan desakan mempertanyakan. Alam yang tidak pernah dibela itu, bisa marah. Jangan pernah lupa.

Manusia, kalau sudah berhadapan dengan alam, pasti jadi remah-remah. Itu keniscayaan. Lebih pasti dari surga dan neraka yang belum tentu ada.

Selamat menikmati Iksan Skuter yang asu, yang membuat kita semua perlu bertanya-tanya. Selamanya.

(Felix Dass)




Unduh



Lagu ini dirilis secara gratis (dan legal!) sebagai bagian dari proyek 37suara.
Teman-teman dapat mendengarkan serta mengunduh lagu ini di laman-laman berikut:
Namun, kalian juga boleh berdonasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk di sini.
Karya ini menggunakan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.





Lirik


"Terima Kasih Petani"
Lihatlah lihatlah di sana
Petani yang ada di sawah
Topinya lebar
Cangkul di tangannya
Tanamannya subur dan berbuah

Nasi lauk dan sayur di meja makan
Itu semua petani yang menanam
Nasi lauk dan sayur yang kita makan
Itu semua petani yang menanam

Terima kasih Pak Petani
Terima kasih Ibu Petani



Kredit


Lirik dan lagu: Iksan Skuter
Artwork: Racun Cinta
Vokal: Citra Aulia Prastika (Gubuk Baca Anak Alam)
Aransemen dan semua instrumen: Iksan Skuter

Direkam, mixing dan mastering di: Audiolectica Records
Mixing dan mastering oleh: Iksan Skuter
Label: Srawung Records, Malang
[Musik] “Terima Kasih Petani” – Iksan Skuter feat Citra Aulia Prastika [Musik] “Terima Kasih Petani” – Iksan Skuter feat Citra Aulia Prastika Reviewed by 37 suara on 25.1.18 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.